Tuesday, January 24, 2017

Istirahatlah Kata-kata; Sebuah Melodi Tanpa Coda

Awal minggu ini berkesempatan memberi sedikit vitamin pada otak yang sedang jenuh. Terima kasih untuk yang sudah rela menemani dan mengurangi jam tidur demi nomat. I really appreciate it.

huft.....
yang berniat menonton film ini untuk refreshing, lupakan saja. film ini tidak ada refreshnya blas.
"makanya yang nonton dikit mbak," *ngomong ma diri sendiri*
kalau yang melihat jadwal nonton di 21cineplex akan melihat ini sebagai film biografi. menurut saya sih gak sepenuhnya biografi. buat saya lebih cocok dibilang kisah pelarian.

film ini berkisah tentang proses pelarian seorang penyair bernama Wiji Thukul sejak insiden kerusuhan 27 Juli 1996 yang melibatkan PRD pada masa orba. lelaki sederhana ini meninggalkan semua yang dimilikinya karena puisi-puisinya yang menyerang pemerintah. kata-kata yang jujur yang mewakili kebosanan rakyat pada rezim bobrok yang hanya gemilang di luar tapi penuh borok di dalam. rezim milik the smiling general.

tak seperti film-film populer, film ini tenang, terlalu tenang pada moment-moment tertentu. seperti sebuah meditasi visual. tidak ada music yang menghentak, tidak ada gambar yang fantastis, tidak ada make up yang ajaib. film ini bersih. kalau saya bilang film ini seperti seduhan green tea diantara asupan radikal bebas sinetron TV gak jelas. yang ada di film ini adalah alunan puisi dari sepasang mitraliur tak sempurna. 

partner nonton saya berkomentar bahwa film ini membuat dia merasa seperti kembali ke saat-saat dia menjadi bagian dari pergerakan 1998. saya tidak punya pembanding yang sama karena saat itu saya hanya merasakan efek jauh. saya tidak terlibat periode itu. tapi entah kenapa saya merasa memahami kengerian sekaligus heroismenya. kisah-kisah yang saya dengar dari keluarga dekat cukup membuat saya seolah ada di sana. 

ketika film berakhir, kami tak juga beranjak. rasanya seperti butuh jeda untuk bernafas. rasanya seperti mendengarkan lagu yang terus meninggi tanpa ada ritme closing. seperti melodi yang tak punya coda. dan emosimu terlanjur ada di atas. kata partner nonton saya, film ini endingnya gak jelas. buat saya film ini memang tak seharusnya punya ending kita sang tokoh yang diceritakan hingga sekarang tak tahu apakah sudah berakhir atau tidak.

"aku tidak ingin kamu pergi, tapi aku juga tidak ingin kamu tinggal. aku hanya ingin kamu ada"
-sipon- 

ISTIRAHATLAH KATA-KATA

istirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu

kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
dalam sunyi yang mengiris
tempat orang-orang mengingkari
menahan ucapannya sendiri

tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan

nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan

tak bisa lagi ditahan-tahan

solo, sorogenen,

12 agustus 1988

copied from here

Wednesday, November 9, 2016

Kubunuh Dia Karena Cinta

(repost)
malam begitu larut saat beberapa orang kantor salah satu harian kotaku baru saja masuk ke gedung berlantai lima, yang memang biasa beraktivitas nyaris 24 jam penuh, termasuk aku. beberapa sapaan orang orang yang kulewati atau orang orang yang melewatiku terbalas sekedarnya demi mengejar deadline berita yang baru saja kuliput. begitu sampai meja kuletakkan tasku diatasnya dan mulai membuka lappy kesayanganku sebelum sapaan lembut play boy kantor cap tokek mampir ke mejaku.
"gimana liputannya Met?" tanya Bram dengan senyumnya yang sialnya manis banget itu.
"menurutmu gimana?" tanyaku balik, "kamu kan lebih berpengalaman dari pada aku, pasti kamu lebih tahu rasanya liputan kasus pembunuhan." lanjutku sambil mengeluarkan tape recorderku dari sarangnya di bodypack hitamku.
"setiap pembunuhan itu tidak hanya berbicara tentang cara atau metode, Met. yang terpenting adalah, dia mengungkap motive atau latar belakang pelaku melakukan pembunuhan itu. tapi sebagai seorang wartawati, kamu juga tidak boleh terlibat dengan pelaku atau object liputanmu, itu akan mempengaruhi obyektivitasmu. kamu harus mempelajari ini mulai sekarang, mumpung kamu masih calon wartawati." petuahnya panjang lebar. kalimat terakhirnya menyadarkanku dengan posisiku.

aku memang mahasiswi jurusan sastra yang sedang magang di kantor itu. setelah satu bulan hanya mengurus translate artikel yang membosankan, akhirnya sore tadi pimred memintaku menggantikan tugas seorang wartawati senior yang sedang cuti untuk melakukan liputan. tapi entah setan yang lari dari neraka atau malaikat kabur dari surga yang merasuki pimredku sehingga aku diserahi liputan pembunuhan yang baru saja terjadi sore tadi. dan sialnya kameramenku yang baik hati bernama Abraham Wicaksono alias Bram si play boy kantor cap tokek yang baru saja mengganggu ku itu ada tugas untuk mengambil gambar di tempat lain dan hanya menemaniku beberapa menit di kantor polisi.
jujur saja, kantor polisi bukanlah tempat yang nyaman untuk di datangi. aku berani sumpah kesamber gledek tujuh turunan untuk hal satu ini. apalagi kalau kantor itu sedang penuh dengan orang berwajah yang menurutku menakutkan. image yang terlanjur kubangun untuk tempat yang disebut kantor polisi benar2 menyebalkan dan intolerable.
tapi saat melihat perempuan yang terduduk di sudut sel itu image itu berubah. perempuan itu menurut polisi yang bertugas saat itu bernama Marini, berasal dari sebuah kawasan elite kota tempatku belajar ini. siang tadi dia datang ke kantor polisi itu dan berkata telah membunuh anaknya dan meninggalkan anaknya di rumah di dalam kamar. dengan rambut sebahu dan baju indah dan aku tahu mahal membalut tubuhnya yang langsing, perempuan itu terlihat cantik. jauh dari image seorang pembunuh atau konsep pembunuh yang ada di otakku. polisi yang bertugas saat itu mengizinkan aku bicara dengan perempuan itu sambil mewanti wanti kalau ada apa2 aku harus segera memanggil petugas yang berjaga karena mereka belum yakin dengan kondisi kejiwaan perempuan itu.
"nama mbak siapa?" tanya perempuan bernama Marini itu mengejutkanku. seharusnya aku lah yang mulai bertanya padanya.
"Meta. saya wartawati." jawabku
"saya tahu. " sambil menunjuk pada pers id yang kupakai. perempuan ini sepertinya cukup terpelajar, batinku. "nama saya Marini."
"Kenapa mbak Marini membunuh putri mbak?" tanyaku sesopan mungkin sambil berusaha mengontrol emosiku saat itu semnetara tanganku sibuk menempatkan recorderku.
"karena aku mencintainya. karena aku harus menyelamatkan hidupnya." keningku berkerut. bukan cara yang wajar untuk menyelamatkan hidup seseorang dengan membunuhnya.
"aku menikahi lelaki itu. sepuluh tahun kuhabiskan waktu bersamanya. dan kami bahagia, Met." dia mulai bercerita, "boleh aku panggil kamu Meta?" aku mengangguk.
"Kami bahagia, Met. pernikahan yang megah, dihadiri seluruh anggota keluarga dan teman teman istimewa, dan bulan madu yang luar biasa. sepuluh tahun aku merasa pernikahanku sempurna. apalagi di tambah aku hamil setelah sekian lama menunggu. sampai delapan bulan yang lalu. bulan ke dua masa kehamilanku, kesempurnaan itu runtuh. hari itu aku pingsan. lelaki itu membawaku ke rumah sakit untuk perawatan. satu minggu kemidian dokter memberi kabar itu. aku tak hanya positif hamil, tapi juga positif HIV." aku tehenyak mendengar kisahnya.
"aku bingung, Met. virginitasku terjaga hanya untuk dia, dan sepuluh tahun aku setia. lalu dari mana datangnya bencana ini?" aku terdiam. kami berdua tahu jawabannya.
"aku bukan orang bodoh , Met. aku tahu bayi yang ada di perutku berpotensi besar mengidap virus yang sama. dan bisa kau bayangkan hidupnya Met? harus minum obat yang sma setiap hari seumur hidup, harus menghadapi penolakkan dimana2, tidak punya teman, apa lagi sahabat, dan dia perempuan Met, sama seperti aku dan kamu. lelaki mana yang mau menikahi perempuan yang bisa meracuni dan membunuh keturunannya? tidak ada, Met. tidak ada.
"aku berusaha menggugurkannya. dia tidak boleh mengalami penderitaan itu. anakku tidak berhak menderita sedalam itu. anakku tidak boleh terluka. tapi dia bertahan. dia bertahan di dalam sana. seolah melawan segala yang telah kuberikan untuk menghilangkannya. dan dia lahir. lelaki itu menggendongnya. dia bahagia. dan Maria, anakku, tersenyum. Maria tidak tahu bahwa dia akan menderita. tapi dia tak boleh menderita Met. "
aku tercenung. sesaat sebelum petugas kantor polisi memberitahuku bahwa waktuku sudah habis. kumatikan recorderku dan menatap Marini yang dibawa pergi seorang petugas wanita.
"terima kasih Met." katanya. "terima kasih." senyumnya mengembang.

aku mendengarkan kembali rekaman yang tertangkap recorderku. dan masih tidak bisa berbuat apa apa di depan lappyku yang masih menyala menghabiskan baterynya dengan percuma. Bram kembali mampir di mejaku.
"mau ikut ke kantor polisi atau aku saja yang pergi?" tanyanya.
"ada apa lagi? orang g bisa nunggu sehari untuk bikin berita kriminal ya?" gerutuku pada Bram karena mengganggu konsentrasiku yang lebih tepat dinamakan lamunanku.
"Marini, object beritamu, bunuh diri di sel. ternyata dia menyimpan obat tidur dosis tinggi di tubuhnya." aku terhenyak. aku tak mendengar lagi sisa kalimat Bram.

Sunday, October 9, 2016

Mocca

Kling!
Suara tanda seseorang masuk ke kedai kopi di Jl. Letjen Suprapto itu berdenting. Damar, sang barista sekaligus pemilik tempat itu, baru saja menggiling sedikit biji kopi yang baru saja selesai dirostingnya pagi itu. Lelaki berperawakan tinggi sekitar 175 cm itu menghentikan langkahnya ketika mendapati perempuan yang selalu ditunggunya setiap pagi memasuki kedai kopinya. Perempuan chubby dengan tinggi tak lebih dan tak kurang dari 160 cm itu memamerkan sepasang lesung pipi di pipinya sambil melangkah menuju meja bar.
“Pagi, Nin!” sapa Damar ramah.
“Pagi,” balas perempuan bernama Anin itu sembari mulai mengeluarkan potongan cake tiramisu dari dalam kotak.
“Cuma 16, Nin?” tanya Damar menghitung sekilas cake yang baru saja keluar dan masih terlihat cantik di atas paper cup.
“Iya, seperti biasa,” jawab Anin santai.
“Tidak mau tambah lagi? Banyak yang suka lho,” Anin tersenyum kembali. Sepasang lesung pipi itu selalu tampak manis untuk Damar.
“Ini kiriman terakhir ya, mas.”
“Eh? Maksudnya bagaimana?” kening Damar berkerut dengan sukses.
“Ya besok aku sudah tidak buat lagi,” Anin mencoba menjelaskan.
“Kenapa?” tanya Damar lagi.
“Kopinya habis mas,” jawab Anin, “Sudah ya mas, nanti malam aku ambil uangnya seperti biasa. Mau berangkat kerja dulu,” pamit gadis itu sambil ngeloyor pergi sebelum Damar bereaksi apa-apa.
Damar menatap kosong pada 16 tiramisu cake yang kini berjajar di meja bar. Warna cokelat tua dengan aroma kopi ule kareng membuat lelaki itu jatuh cinta pada cake ini saat suapan pertamanya hampir setahun yang lalu. Cream dan base cake yang seolah meleleh di mulut dan hanya meninggalkan jejak pahit manis seolah menambah cinta itu. Adalah Bella, sepupunya, yang memperkenalkannya pada manis-pahitnya dessert khas Italia itu. Saat itu Bella iseng pesan tiramisu cake seloyang besar dari instagram saat ulang tahunnya sendiri dan membaginya dengan Damar dan para pegawainya. Lembutnya cream vanilla yang manis dan cake yang kopi banget membuat Damar memaksa ingin bertemu dengan sang pemilik akun  @kuemanisku itu.
****
Pertemuan pertama mereka dibuat oleh Bella juga dengan memesan seloyang cake lagi dan langsung COD di kedai kopi Damar. Dan saat itu pula lelaki itu mengenal Anindya Putri. Perempuan muda usia hampir 30 yang seolah menghadapi hidupnya dengan sejumlah keisengan belaka, termasuk tiramisu cake yang hanya dibuat jika ada yang memesan saja. Tanpa berpikir ulang, Damar menawarkan kerja sama yang anehnya diterima dengan alot oleh Anin. Bahkan Damar terpaksa menyetujui bahwa bisa saja tiramisu cake itu tidak selalu ada dan bahwa perempuan itu tidak mau mengambil kembali cake yang tersisa. Syarat yang aneh dan beresiko untuk sebuah usaha yang tidak besar seperti kedai kopinya sekaligus usaha cake milik Anin karena perempuan itu hanya mau menerima uang hasil penjualan yang sudah dikurangi komisi. Perempuan satu ini seolah tak ingin tahu dengan segala perhitungan untung ruginya. Untung saja cake itu hampir selalu habis jadi Damar tak perlu memusingkan apapun berkaitan dengan itu.
Dan sekarang sudah hampir satu tahun kerja sama itu terjalin. Damar sudah begitu terbiasa dengan kehadiran Anin di kedainya. Lelaki itu sudah begitu terbiasa melihat perempuan chubby itu masuk ke kedainya tepat jam 9 pagi. Damar terbiasa dengan senyum yang memerkan sepasang lesung pipi di pipi bulat perempuan itu sama terbiasanya dengan sepotong tiramisu yang dinikmatinya begitu Anin melewati pintu kedainya.
“Kamu jatuh cinta,” begitu komentar Bella suatu kali di kedai kopi Damar setelah genap satu bulan Anin benar-benar menghentikan kiriman tiramisunya. Sepupunya yang kuliah psikologi itu memang sering sok-sokan berubah menjadi psikiater amatir untuk para anggota keluarga dan kali itu Damar lah yang menjadi korban.
“Pada siapa?” tanya Damar berusah cuek.
“Pada Anindya Putri Dewanti,” jawab Bella sambil menyuapkan spaghetti bolognaise buatan pegawai kedai ke mulutnya.
“Ngawur!” balas Damar sembari melempar kain lap cangkir ke arah sepupunya. Bella kemudian tertawa puas. Dan sepanjang malam itu Damar memikirkan ocehan singkat Bella.
****
“Sebenarnya aku tidak paham, Dam” celetuk Bella suatu kali.
“Tidak paham apa?” tanya Damar acuh.
“Apa sih yang kamu cari?” tanya Bella, “Damar Dian Pratama, mapan, cerdas, keluarga yang baik, dan bisa dibilang sukses. Lalu apa lagi yang kamu cari?” lanjut Bella dengan gayanya yang lebai[dot]com itu.
“Maksud kamu apa sih Bel?” Damar mulai berkutat dengan kopinya seperti yang dilakukannya setiap kali dia gusar.
“kamu tahu maksudku, Dam” jawab Bella pelan. Damar menghela nafas. Lelaki itu mulai menuangkan air ke filter kopinya. Aroma harum yang selalu dia suka sekaligus selalu berhasil menenangkannya menguar memenuhi indra penciumannya.
“Aku akan jatuh cinta lagi, Bel” jawab lelaki itu, “pada waktunya nanti,”
Bella menghela nafas. Lelaki ini membuat orang-orang disekitarnya kuatir. Setelah penghianatan Laras sepuluh tahun lalu, tak ada kisah tentang perempuan lain penggantinya. Yang ada adalah kisah-kisah tentang perjalanan yang seolah tak ingin diselesaikannya. Bahkan saat kedai kopi miliknya dibangun. Bukan berarti lelaki ini masih mencintai Laras. Bella yang paling tahu bahwa kisah itu sudah benar-benar selesai. Rasa itu sudah netral. Tapi Damar memang tak mudah menambatkan hati seperti juga sepasang kakinya yang tak pernah menancap di satu tempat.
“Kalau kamu belum menemukan alasan untuk pulang, setidaknya buatlah tempat untuk pulang” pesan Bella saat itu. Kalimat itu pula yang membuat Damar membuka kedai kopi di sudut kota lama yang merupakan salah satu asset terbengkalai keluarganya. Tempat untuk sekedar pulang.

Sekarang Damar memikirkan kembali pesan itu. Keping memori di otaknya dengan sadis mengulang kalimat itu dan pernyataan Bella bergantian. Tapi kalau benar dia jatuh cinta pada Anin, lalu apa? Lelaki itu nyaris tak tahu apa-apa tentang perempuan yang di ponselnya diberi nama tiramisu girl itu. Nama itu tampil dengan jelas lengkap dengan gambar sepotong tiramisu cake sebagai display picture bbmnya.
Damar  : “Ping!”
Anin    : “yup?”
Damar  : “lama gak mampir kedai”
Anin    : “iya”
Damar  : “gak kangen?”
Anin    : “Kangen siapa?”
Damar  : “kangen aku misalnya?”
Anin    : (laughing emoticon) gak
Damar  : “tapi aku kangen”
Anin    : “sama?”
Damar  : “tiramisu cake kamu”
Anin    : (smile) “sudah tidak buat tiramisu. Sudah ganti menu”
Damar  : “apa menu barunya?”
Anin    : “chocolate roll cake”
Damar  : “order satu dong”
Anin    : “untuk kapan?”
Damar  : “besok?”
Anin    : “malam ya?’
Damar  : “ok”

Kling!
Suara itu terdengar untuk kesekian kalinya malam itu di kedai Damar diikuti ucapan selamat datang dari para pegawainya. Malam yang sibuk tapi entah kenapa hatinya tak tenang. Sudah empat kali Damar salah membuat pesanan dan membuat para pegawainya bingung. Wajah tegang lelaki itu berhias senyum tipis yang nyaris tak terlihat ketika bayangan Anin tertangkap matanya.
“Sibuk, mas?” tanya Anin
“Lumayan,” jawab Damar. Senyum terlihat di sepasang matanya. Tak berapa lama sepasang manusia itu sudah duduk di teras lantai dua kedai itu.
“Bagaimana?” tanya Anin usai Damar menghabiskan potongan pertamanya.
“Yummy,” puji Damar, “chocolate mouse nya lembut banget. Bolunya juga gak terlalu manis. Aku suka,”
“Syukurlah,” senyum mengembang memamerkan sepasang lesung pipi yang selalu dirindukan Damar dengan sukses.
“Nin,” bisik Damar pelan.
“Hmm?” gumam Anin.
“Kenapa ganti cokelat?” tanya Damar
“Kan aku sudah cerita, kopinya habis,” jawab Anin santai.
“Kalau cuma masalah kopi, aku bisa sediakan untuk kamu,” desak Damar.
Anin menghela nafasnya sendiri. Dari wajahnya tersirat dia tidak ingin bercerita lebih banyak. Tapi Damar menunggu. Lelaki di depannya terus menunggu sambil menyuapkan sedikit demi sedikit seloyang roll cake di depannya. Dan kisah itu meluncur seperti air bah yang sudah terlalu lama dibendung. Kisah tentang seorang pria penggemar kopi yang berusaha memperkenalkan serbuk hitam itu pada seorang gadis pecinta cokelat. Serbuk hitam yang hampir selalu berakhir dengan asam lambung akut di akhir sesapannya. Kisah tentang pria yang menyerah menjelang hari pernikahan dan meninggalkan sekaleng ule kareng yang siap diseduh.
Damar terpaku. Langkah ringan dan senyum perempuan didepannya menipu semua orang dengan sukses. Siapa yang menyangka perempuan yang banyak senyum itu menyimpan luka dan serpihan hatinya sendiri.
“Tiramisu itu hanya cara agar kopi itu cepat habis, mas,” tutup Anin, “setiap adonan dan setiap potongannya adalah kenangan yang ingin kubuang. Katakanlah ini terapiku menutup luka yang dia buat. Tiramisu terakhir adalah batas waktu yang kutetapkan untuk kembali pada diriku sendiri,”
Damar menatap senyum lembut perempuan di depannya. Masih ada getir di sepasang mata berkacamata minus itu. Tapi senyum itu tulus juga. Tiba-tiba Damar tertawa. Derai tawa yang membuat Anin bingung.
“Apa yang lucu sih mas?” tanya perempuan itu. Ekspresi bingung di wajah Anin membuat Damar makin keras tertawa. Tawanya makin menjadi ketika disadarinya Bella akan tertawa menang saat menagih traktirannya nanti.
“Tunggu di sini sebentar ya, Nin,” kata lelaki itu ketika tawanya mereda. Damar bangkit dari duduknya dan meninggalkan Anin yang masih bingung tapi tak urung menuruti perkataan Damar untuk tinggal.
Tak lama Damar datang lagi dengan segelas minuman ditangannya. Lelaki itu meletakkan minuman beraroma kopi bercampur vanilla di depan Anin yang masih saja bingung. Damar tersenyum.
“Aku gak minum kopi, mas,” kata Anin bingung.
“Coba dulu,” bujuk Damar. Entah karisma Damar, atau senyumnya yang membuat Anin menyerah mencicip minuman itu.
“Jadi?” tanya Damar singkat.
“Manis, lembut, cokelatnya terasa, tapi wangi kopi. Es krim vanillanya juga enak banget. Enak,” jawab Anin.
“Nin, aku berharap bisa memperkenalkan kopi-kopi beraroma nikmat seperti ini padamu,” kata Damar serius, “tapi aku tak bisa memaksa dan tidak ingin memaksa. Aku hanya bisa menawarkan jalan tengah untuk cokelatmu dan kopiku. Aku menawarkan mocca untuk kita. Maukah kamu menerimanya?”
Anin menatap Damar. Ada keseriusan di sepasang matanya. Perempuan itu tertunduk. Sejujurnya ada ragu itu untuk hatinya sendiri. Siapkah hatinya mengambil resiko lagi? Siapkah dia terluka lagi? Siapkah dia jatuh cinta lagi?
“Boleh buat bikin kue?” tanya Anin dengan senyum isengnya yang membuat Damar tergelak lalu mendaratkan ciuman di jari kekasih barunya.

Wednesday, September 7, 2016

ini agamaku urus sendiri agamamu

yang mau baca silahkan baca, yang mau komen silahkan komen, tapi ini sekedar unek-unek pribadi. 

duh dari judulnya sama kalimat awalnya kok hawane dah BT tingkat kecamatan ya. tapi serius gondok banget sih kalau sudah nyerempet soal seperti ini.
ceritanya kemarin dapat cerita dari kanjeng mami yang bikin hawa-hawa bikin kulit jadi tipis.
kanjeng mami kebetulan disambati oleh tetangga yang mau mantu kemarin. keluarga itu memang keluarga muslim dan kebetulan mempelai wanitanya juga berjilbab. dan karena kami tetangga baik dan terbiasa saling nyambat ya dengan senang hati bapak sama ibu dengan senang hati membantu. karena tahu kami dari keluarga non muslim, yang punya hajat juga sudah menghubungi pihak perias (yang ternyata teman ibu waktu muda) agar ibu dirias berbeda mengenakan kebaya biasa dan sanggul. 
menurut cerita kanjeng mami sih dah disuruh kumpul jam 7 pagi nan untuk dirias. tiba-tiba si ibu RT *gak jelas* bilang kalau yang dirias yang pakai jilbab. ibuku dengan santai ya nunggu saja dan cuma bilang "iya, gak pa pa" eh si ibu RT ajaib ini malah bilang, "ya mbak di jilbabin aja sekalian," ibuku kaget katanya tapi masih santai bilang kalau gak perlu. bukannya diam si ibu itu malah nambahin "kan anaknya juga sudah muslim dan berjilbab, ayahnya kan juga namanya mochamad," titik itu ibuku gak bisa diam. agak keras ibu bilang kalau memang kami sekeluarga beda-beda dan kalau itu tidak bisa diterima dan memang dipaksakan berjilbab mungkin lebih baik ibu gak usah jadi among tamu juga gak papa.
masalah diredakan dengan kedatangan perias yang langsung bilang kalau untuk ibu memang dibedakan sesuai pesanan yang punya hajat. karena si ibu RT aneh plus gak jelas dikalikan ajaib itu diam ya sudah ibuku diam juga.
dapat cerita seperti itu rasanya pengen njahit mulut si ibu RT itu. sebagai keluarga katolik, keluarga kami memang minoritas. dalam 1 rt yang berisi 50 kk, cuma ada 3 keluarga katolik. bertahun-tahun hampir tidak ada masalah besar yang menyangkut agama. keluarga kami juga cukup aktif di lingkungan RT dan cukup dikenal di kelurahan karena bapak dan ibu memang aktivis sejak masih muda. seumur-umur baru sekali ini disinggung soal agama.
keluarga kami memang beragam. dalam keluarga besar masing-masing, hanya ibu dan almarhumah budhe yang katolik, sementara bapak satu-satunya katolik dalam keluarga besarnya. ketika adekku menjadi mualaf, menjadi Islam, dan bahkan berhijab dan berusaha syar i, sebagai keluarga kami memberikan dukungan penuh meskipun prosesnya tidak mudah. ketika saya berniat untuk menikahi seorang muslim meskipun gak jadi tanpa berubah agama pun keluarga terdekat saya tidak mempermasalahkan. bagi kami agama adalah urusan kami pribadi dengan apa yang kami percaya dan Tuhan. yang harus digaris bawahi di sini bahwa tidak ada satupun dari keluarga kami yang saling mempengaruhi. setiap orang punya pandangan masing-masing, iman masing-masing, dan jalan keselamatan masing-masing.
terlebih soal hijab, buat saya setiap orang berhak memilih termasuk apa yang mau dikenakannya. mau pakai burqa, mau pakai hijab, mau pakai rok mini, mau pakai bikini juga terserah selama itu adalah pilihannya sendiri. jadi ya jangan memaksa untuk mengenakan apa yang tidak ingin kami kenakan.
setahu saya dalam Islam ada kalimat bagimu agamamu dan bagiku agamaku. buat saya, ini agamaku, urus sendiri agamamu. jika menjadi Islam, berhijab, sholat dan lain-lain adalah jalan baikmu dan jalan keselamatanmu, bukan  berarti jalan itu berlaku untuk semua orang.

Wednesday, July 20, 2016

mendaras doa

Kudaraskan doa
Kata demi kata
Butir demi butir salam maria
Dalam sunyi tanpa cahaya

Masih ada
Masih terasa
Pedihnya
Lukanya
Sakitnya

Dan air mata ini tak kunjung usai
Meski baginya sudah tak ada derai

Sunday, July 10, 2016

the little girl in the mirror

Dalam cermin hatiku
Ada cahaya maya
Mungkin milik senja yang tersisa
Atau fajar yang menunggu sang waktu

Dan di sudut itu
Kutemukan dirimu
Gadis kecil yang sama
Yang diam dan masuk cangkang saat terluka

Di sudut itu
Kutemukan dirimu
Menangis sejenak dalam tempurungmu
Lalu membisikan doa terbaik dalam diammu

Kulihat lagi cahaya maya dari cermin sukma
Fajar kah? Atau senja?
Gadis yang sama
Kamu? Atau aku yang di sana?

Saturday, April 30, 2016

Ajari Aku

Ini bukan tentang rindu
Ini juga bukan tentang benci
Ini bukan pula tentang pedih
Atau pun luka

Ini bukan tentang rasa
Ini bukan pula tentang berharap
Ini bukan pula tentang cinta
Atau pun sunyi

Ini hanya tentang kenangan
Yang masih saja tersimpan
Dan kadang mengusik

Ini tentang cara melupakanku
Mau kah kau mengajariku?