Indonesia adalah sebuah negara multi etnis. Salah satu etnis
yang memiliki sejarah panjang di negeri ini adalah etnis tionghoa. Tidak hanya
secara ekonomi, budaya –budaya masyarakat peranakan tionghoa mempengaruhi
banyak kebudayaan Indonesia. Salah satunya adalah festival Imlek yang diadakan
di berbagai daerah dengan kultur budaya tionghoa yang kuat.
Bagi warga solo pasti tidak asing dengan yang namanya Grebeg
Sudiro. Bagi warga yang dari luar Solo seperti saya, well, perlu browsing dan
tanya – tanya dulu. Hehehe.
Jadi apa itu Grebeg Sudiro?
Kalau orang Jawa pasti tahu apa itu grebeg. Grebeg adalah
sebuah tradisi bagi masyarakat Jawa untuk menyambut acara-acara besar seperti
Maulud Nabi dan Suro (Tahun Baru Jawa). Umumnya acara grebeg diawali dengan doa
dan puncak acaranya adalah perebutan gunungan yagn biasanya berisi hasil bumi. Hasil
bumi berbentuk gunungan ini biasanya adalah sedekah dari keraton untuk
masyarakat sebagai bentuk syukur kepada Tuhan. Masyarakat Jawa, terutama
sekitar keraton, percaya bahwa jika kita mendapatkan bagian dari gunungan
tersebut (meskipun cuma lidinya saja) bisa mendapatkan berkah tersendiri.
Lalu bagaimana dengan Grebeg Sudiro? Dalam Grebeg Sudiro
gunungan yang biasanya berisi hasil bumi berganti dengan ribuan kue kranjang,
kue khas masyarakat etnis tionghoa saat menyambut tahun baru Imlek, yang diarak
sepanjang kawasan Sudiroprajan. Kawasan Sudiroprajan sendiri adalah sebuah
kelurahan di kecamatan Jebres di kota Solo. Kawasan ini merupakan kawasan yang
ditempati oleh warga China peranakan. Di kawasan ini mereka hidup
berdampingan dengan masyarakat Jawa.
Proses arak-arakan Grebeg Sudiro diikuti gabungan kesenian
tradisional tionghoa seperti liong dan barongsai, serta kesenian jawa seperti
tarian tradisional dan reog. Bahkan kesenian-kesenian kontempores juga turut
mengisi perarakan ini. Arak-arakan ini
akan berhenti di depan Klenteng Tien Kok sie di Pasar Gede. Perayaan ini juga
mengawali dinyalakannya lentera atau lampion-lampion untuk menyambut Tahun Baru
Imlek.
![]() |
lampion di depan jendela Pasar Gede |
Berbeda dengan Grebeg Suro yang merupakan sebuah budaya dari masa
lalu, Grebeg Sudiro adalah sebuah tradisi baru. Perayaan ini dimulai tahun
2007, meniru perayaan Grebeg Suro. Meskipun
begitu perayaan ini bukanlah perayaan yang tiba-tiba ada. Perayaan Grebeg
Sudiro yang sudah dimulai sejak tujuh hari menjelang Tahun Baru Imlek ini adalah
lanjutan dari tradisi lama yang disebut Buk Teko. Menurut Wikipedia, Buk Teko
adalah sebuah tradisi syukuran menjelang Tahun Baru Imlek. Tradisi lama ini
sudah dirayakan sejak Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku
Buwono X (1893-1939).
Tahun 2017 ini, karnaval budaya Grebeg Sudiro diadakan pada
hari minggu tanggal 22 Januari 2017. Acara perarakan ini dimulai pukul 12.00.
Puncak acara perarakan ini dalah pembagian kue kranjang kepada masyarakat yang
hadir mengikuti prosesi ini. Pada malam tahun baru Imlek acara ditutup dengan
pesta kembang api di kawasan Pasar Gede.
![]() |
lampion ayam |
![]() |
the rooster dan bapak-bapak PM yang jaga |
![]() |
persiapan barongsai |
![]() |
mencari jalan untuk persiapan tampil para penari barongsai |
![]() |
the dragon dance (liong) |
![]() |
band yang lagu-lagunya asik dan ajaib :D |
![]() |
pesta kembang api |
![]() |
pesta kembang api yang total 20 menit |
![]() |
para pengunjung |
Untuk saya yang berasal dari Semarang, perayaan Imlek bukan
hal baru sebenarnya. Yang membuat Grebeg Sudiro ini terasa berbeda justru
karena saya tidak melihat sesuatu yang “China banget” di acara ini. Acara ini
benar-benar menjadi sebuah akulturasi budaya. Sebuah dialog budaya antar etnis
yang tercipta dengan elegan. Jika di pasar Semawis Semarang, kita akan
mendapatkan suasana seperti pasar malam di sebuah kawasan pecinan, mulai dari
pedagang sampai lagu-lagunya, dan tentu saja para om-om, tante-tante, dan para
eyang yang ikut acara karaoke. Sementara di Grebeg Sudiro saya nyaris tidak
menemukan pedagang dari etnis Tionghoa. Sepanjang saya melihat hanya ada
pedagang kecil biasa. Bahkan saya tidak menemukan penjual pork yang biasanya
ada di Pasar Semawis Semarang. Buat saya ini menarik. Bahkan band yang menemani
pengunjung menunggu pesta kembang api pun lagunya tidak ada yang lagu mandarin,
setidaknya selama saya muter-muter di sekitar kawasan Pasar Gede dari jam 22.00
sampai kembang api selesai. Selain lampion beraneka bentuk dan aroma dupa yang
selalu menyenangkan untuk saya, hanya ada tarian lion dan barongsai penanda
budaya Tionghoa yang terlihat.
Sebagai agenda tahunan, acara Grebeg Sudiro ini
not bad. Not bad at all.
PS: bikin saya pengen ke festival imlek lain di Indonesia *crossing fingers*
Source : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Grebeg_Sudiro
Foto: dokumen pribadihttps://id.m.wikipedia.org/wiki/Grebeg_Sudiro
Foto: dokumen pribadihttps://id.m.wikipedia.org/wiki/Grebeg_Sudiro
No comments:
Post a Comment